SAYA & UMY

Bismillah…

Ini sepotong cerita yang kukenang dari salah seorang dosenku di Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah yogyakarta.

Tiap kali saya melihat 
jalanan yang tergenang air
jalanan yang menunjukkan tanda-tanda kerusakan
pekerjaan jalan raya
baik proyek baru,
overlay
maupun hanya sekedar proyek tambal tambal jalan
(yang saya maksud dalam kisah ini jalanan aspal ya…. bukan Rigid Pavement).

Saya teringat pada sosok dosen yang diberi gelar “dosen killer”
oleh kakak tingkat dan teman-teman seangkatan.
Beliau adalah Bapak Ir. GENDUT HANTORO, MT (Rahimullah).

Di salah satu sesi mata Kuliah Jalan Raya, beliau melempar satu pertanyaan..

“ada yang tahu apa musuhnya jalan beraspal..???”
Seisi kelas membisu… tak ada seorangpun yang menjawab.
“musuhnya aspal itu ada tiga” ujar beliau
Kami pun masih membisu
“musuh aspal yang pertama adalah AIR… yang kedua AIR… yang ketiga AIR”

Pada saat praktikum ilmu ukur tanah,
1 kelompok terdiri dari 5 orang
saya 1 kelompok dengan Muhammad idham @echie umm u tee, Indra sasangka
satu lagi saya lupa… pake banget … mohon maaf untuk yang kulupa #sungkem 🙁
(mungkin rekan-rekan sekelompok saya bisa membantu mengingat 😛 )

Kami hampir menyerah dikala itu…
Dikarenakan deadline udah didepan mata,
dan pekerjaan kami masih jauuuh dari kata selesai.
Setelah berdiskusi dan pertimbangan sana sini,
kami putuskan untuk berusaha menyelesaikan praktikum perdana ini.

Guna mempercepat menggambar di kalkir,
Saya meminta bantuan kakak saya @akhmad Munawir adam dan Adi Setiadi temannya,
karena meja gambar dan rapido lengkap ada dikontrakannya di condong catur.

Karena terburu-buru,
kami pun lupa membeli kalkir yang sudah dicetak kolom keterangan yang berisi logo kampus,
nama praktikum, nama dosen, nama kelompok dll
(padahal ada dijual di sekretariat teknik sipil UMY)
Dan hebohnya lagi…
kertas kalkirnya sudah digambar & tak cukup untuk menuliskan kolom keterangan,,
Karena kami ini tim kreatif & inisiatif tinggi,
jadilah keterangan itu kami tulis dikalkir terpisah. 😀
Lalu kami selotif di gambar ilmu ukur tanah kami. 😀
Yeeey…

bisa membayangkan…. apa yang saya tuliskan???
Serius kawan itu terlihat benar-benar berantakan #TutupMuka#

Gambar kami selesai sekitar jam 11 malam,
dari condong catur kami langsung meluncur kembali ke wirobrajan untuk asistensi ke CoAss.
Ternyata di kost-an CoAss sudah ramai mengantri,
padahal besok adalah hari terakhir asistensi di depan
Bapak Ir. GENDUT HANTORO, MT (Rahimullah).

Keesokan hari…
Setelah begadang hingga dini hari..
lalu mengantri dari pagi…
Alhamdulillah kami dapat giliran jam 4 sore..

Setelah Pak GENDUT bertanya-tanya tentang praktikum yang kami kerjakan.

Dengan nada tinggi Beliau berkomentar
“lihat kerjaan kalian ini (sambil mengibaskan kalkir kami),
ga bakal dapat proyek klo kalkirnya ditempel begini….!!!
jangan pernah diulang lagi…”

Kami hanya cekikikan + cengengesan…. 😀 😀

Cerita terakhir saya bersama Bapak Ir. GENDUT HANTORO, MT (Rahimullah),

Beliau dosen pembimbing 1 untuk skripsi saya,
Ditengah mengerjakan skripsi saya berangkat haji,
Hampir sekitar 4-5 bulan saya tak datang bimbingan,

Ketika saya datang menghadap,
rupanya Pak Gendut sudah mendapat berita bahwa saya berangkat haji.

Pertanyaan pertama yang beliau ajukan ketika bertemu saya dihari itu
(Ini percakapan yang inshaAllah takkan saya lupakan..)

“Nani do’ain saya ga di Tanah Suci?” tanya Beliau
“ga Pak, Bapak kan ga titip do’a…” jawabku sambil tersenyum kaku
“Kamu kan ga cerita klo mau berangkat haji…”
tutur beliau tanpa menatapku sambil memeriksa berkas diatas mejanya
“saya mohon maaf pak, ga pamit dengan bapak waktu mau berangkat haji,
Emang bapak belum berangkat haji?”
“belum”
“kenapa bapak belum berangkat haji?” tanyaku dengan polos
Beliau sempat terdiam dan menghela nafas
“uang saya belum cukup Nan” ujarnya
Ada perasaan tak nyaman merayap dihatiku.
“masa iya uang Bapak belum cukup untuk berangkat haji?” tanyaku penasaran
“cukup sih kalau untuk sendiri, tapi saya mau berangkat bareng istri…”

Jleb…ketika kudengar pernyataan Beliau.
Tak lagi kulanjutkan percakapan itu…
Lalu beliau kembali memeriksa skripsi saya….

Beliau sakitnya tiba-tiba,
kami janjian dengan teman-teman yang masih stay di jogja
untuk menjenguk beliau di hari Sabtu 16 Agustus 2008
Ternyata…
Beliau pergi menghadap Illahi hari Jum’at tanggal 15 Agustus 2008

jangan ditanya bagaimana rasa sesal dihari itu…

Dikala pekerjaanku terasa berat,
Ingin sekali berbagi cerita agar mendapat motivasi,
Beliau orang saya rasa tepat untuk berbagi cerita,
Sayangnya Allah tidak memberiku kesempatan untuk itu…

Selama Beliau mengajar,
Ada kalimat yang selalu beliau ulang
Yaitu

kalian harus menjadi insinyur yang berILMU dan juga berIMAN,
jangan hanya mengejar uang,
dokter salah suntik yang mati hanya satu,
insinyur salah hitung,
yang mati satu gedung….

Bukan berarti dosen-dosen sayayang lain tak istimewa…
Hanya saja dengan beliau saya pernah berkomunikasi secara intens
Sehingga wajar rasanya kalau saya merasa beliau seperti orang tua saya di kampus tercinta.

Akhirul Kalam
Semoga ilmu yang beliau bagi untuk kita semua bisa memberi cahaya dikubur Beliau.

untuk seluruh Dosen & Civitas UMY
serta rekan-rekan seperjuangan
Saya merindukan kalian semua…
dimanapun kalian berada…
semoga selalu Dalam LindunganNya

img_1352

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *