Insiden latihan berdiri

Pasca insiden minggu malam dimana bapak terjatuh ketika latihan berdiri, bapak sampai mengaduh ketika di angkat dari posisinya yang terduduk, sambil berkali-kali mengucap ‘sakit’. Bahkan bapak berkeringat dingin ketika akan makan malam. Sehingga saya putuskan untuk membaringkan bapak dan menunda makan malamnya.
Bapak berkeringat cukup banyak sehingga saya merasa de javu dengan kondisi beliau ketika kurang darah dan nyaris pingsan ketika akan makan malam beberapa bulan yang lalu.

Terngiang-ngiang ditelinga pesan dari dokter Yulius Mandua spesialis syaraf yang menangani bapak di RS Siloam Balikpapan, beliau berpesan

‘sekecil apapun perubahan yang terjadi pada bapak, yang tidak biasa, patut di curigai sebagai serangan stroke‘.

Insiden bapak jatuh pada minggu malam menghadirkan perasaan menyesal banget-banget dalam hati ini, ini bukan pertama kalinya bapak terjatuh di sesi latihan berdiri, yang membuat saya sedih sekali karena yang kali ini membuat bapak benar-benar kesakitan.
Sampai senin malam bapak hanya berbaring seharian, sebenarnya saya kurang suka jika bapak hanya berbaring seharian, karena biasanya keluhan beliau akan merembet sana sini, punggungnya panas/gatal (walau sudah pakai kasur angin anti decubitus), dan juga obrolan bapak bisa ga nyambung, demensia bapak bakal kumat klo seharian ga keluar kamar.

Senin malam saya mulai was-was dan mulai berprasangka macam-macam, kerena bapak masih merasakan sakit yang banget-banget di kakinya, saya jadi bingung sebenarnya yang sakit paha kiri atau tulang pinggul?. Karena bapak juga mengatakan pinggulnya sakit.
Malam itu saya berdiskusi dengan bapak, dan sepakat bahwa akan check up ke rumah sakit BILA hari selasa kaki bapak tak kunjung membaik.

Setelah bapak tertidur saya mulai browsing-browsing tentang “lansia terjatuh” horor-horor juga membaca hasil pencarian si mbah google, lansia umur 60 tahun ke atas rentan terjatuh dan mengalami tulang retak bahkan patah (kebanyakan kasus terjadi pada wanita, diumur 60an tulang wanita lebih rapuh akibat menopause yang menyebabkan osteoporosis). Banyak juga yang menuliskan pengalaman orang tuanya yang mengalami tulang retak dan patah tulang, ada 1 gambar yang membuat saya down banget karena menghadirkan ketakutan jangan-jangan tulang pinggul bapak retak.

alodokter-patah-tulang-pinggul

*stress liat gambar diatas😅

Setelah browsing sekitar 1 jam saya memutuskan untuk membawa bapak check up pada selasa pagi, jika bapak kesakitan dalam posisi duduk.

Terus terang saya ga suka ke rumah sakit, mengingat beberapa tahun lalu awal-awal bapak sakit, saya harus bolak balik rumah sakit, honestly belum sanggup menanggung beban mental seperti itu lagi. Apalagi kalau harus sampai rujuk ke Balikpapan.

Selasa subuh
Saya terbangun saat adzan subuh, setelah mandi saya sholat subuh seraya berdo’a meminta pertolongan Allah agar kondisi bapak baik-baik aja dan tak seburuk prasangka saya semalam.

Alhamdulillah pagi ini bapak terbangun dalam keadaan lebih sehat, beliau bilang sakit dikakinya tidak sesakit kemarin, bersama dengan ibu saya mulai membangunkan bapak dari posisi berbaring ke duduk, lalu pindah ke kursi roda untuk pergi mandi. Walaupun kesakitan luar biasa, kaki kiri bapak masih bisa menahan sedikit beban tubuhnya ketika pindah ke kursi roda.

Dari situ ketahuan bahwa yang sakit “paha kiri” bukan di tulang pinggul.
Setelah mandi dan sholat subuh, bapak minta duduk di teras, melihat kondisi bapak yang mulai beraktifitas dengan normal kami batal ke rumah sakit.

Rasanya membahagiakan sekali hari itu melihat bapak bisa kembali ke rutinitasnya, walau paha kirinya masih sakit.

By the way jika beberapa hari ke depan kondisi paha bapak tak kunjung ada peningkatan, saya bawa deh foto rontgen….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *