Terbaik versiNya

‎ بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Tak terasa sebentar lagi kita bakal sampai di bulan desember…
Perasaan baru-baru aja bulan januari, eh udah mo desember aja.
Klo bikin kaleideskop perjalanan hidup saya di 2016 bakal seru banget kayaknya *SenyamSenyumCengengesan
Dimana hidup rasa Gado-Gado dan rasa Nano-Nano *SenyamSenyumLagi
‎اَلْحَمْدُلِلّهِ saya hamba اَللّهُ yang bahagia di 2016 ini, bahagia karena bisa lebih bijaksana menyikapi ketetapan اَللّهُ
Bahagia karena berhasil menemukan banyak cara untuk meningkatkan Endorphin…

Ini sampe lupa mo nulis apaan, ko jadi bahas kalaideskop 2016. #GagalFocus

Ooh…
Kembali ke niat awal menulis artikel ini.
‎اَللّهُ menunjukkan LAGI caraNya agar saya yang hamba ‘so tau’ ini berhenti memaksakan kehendak ataupun skenario pribadi. Kisah ini berkaitan dengan cerita saya tentang Jambu&Pintu

Sebenarnya bukan hal yang baru bagi saya untuk mengatur proyek fisik dalam skala besar, dan tahun ini saya diberi amanah untuk memegang satu proyek yang ‘kecil’ aja sebenarnya jika dibanding proyek saya di Jaman dulu, klo saya di posisi PPTK ya ini proyek besar. Tapi inti cerita ini bukan masalah seberapa besar nilai proyeknya, tapi seberapa besar hikmah yang saya ambil.

Jika menilai diri sendiri, saya ini sebenarnya manusia yang berpikir praktis, ga suka basa basi dan jelas ga mau repot.
Semua ingin saya rencanakan sebaik mungkin.
Awalnya saya ngotot pengen memilih sendiri rekanan yang akan mengerjakan proyek ini, rekanan yang ‘terbaik versi saya’, ternyata rencanaNya tak sama dengan skenario saya, ya iyalah…
Hanya Allah yang berkuasa untuk menakdirkan segala sesuatu.

Tenyata si Paijo jadi pemenang, ada perasaan malu hinggap dihati saya karena pernah berusaha membelokkan rejeki seseorang. Saya memutuskan untuk menyambut Paijo sebagai pemenang tanpa perlakuan diskriminatif , untuk berurusan dengan rekanan saya sudah memiliki SOP sendiri yang ga boleh turun standarnya. Tidak boleh mempersulit, jika ada masalah harus fokus mencari solusi tanpa basa basi, kalau benar ga boleh ngalah.

Dari cerita rekan-rekan saya, track record Paijo ini ‘bad’ banget, sampai beberapa rekan saya selalu mengatakan ‘apa ga ada yang lain, jangan dia lah’
Saya bener-bener was-was + pasrah dengan keadaan, satu-satunya cara untuk memudahkan saya menjalani proyek ini, saya masih berkuasa untuk memilih pengawasnya, alhamdulillah.
Dan saya pilihlah pengawas terbaik versi saya, alhamdulillah saya ga salah pilih, karena beliau ini pengawas yang berpengalaman & punya ikatan batin dengan Paijo *hehehe

Setelah proyek berjalan, saya merasa kinerja Paijo ga seburuk yang diceritakan teman-teman, hari demi hari saya seperti menunggu “hal negatif” yang akan dilakukan si Paijo. Ternyata ga ada ding…
Kerjaan berjalan lancar jaya, koordinasi ga susah, paijo nya kooperatif, ga kasar, ga aneh-aneh.
This is The easiest project as long as i work…
Saya ga perlu tiap hari ke lapangan, kerjaan tukangnya rapi, sepanjang proyek berlangsung ga pernah ada deviasi keterlambatan yang berarti, pengawasnya aktif, bisa menyelesaikan masalah bahkan sebelum ada laporan ke saya, اَلْحَمْدُلِلّهِ

Sekitar 2 bulan yang lalu saya mendapat laporan bahwa rekanan “terbaik versi saya” ternyata cidera janji di proyek lain.

Naaaah…
Disini letak pelajarannya…
Ternyata rekanan “terbaik versi saya” bukan yang terbaik versi اَللّهُ
‎اَللّهُ mengetahui dan saya tidak.
Karena اَللّهُ Maha Tahu segala perkara ghaib maka اَللّهُ pilihkan yang terbaik (ga pernah terpikirkan oleh saya bahwa kisahnya akan sebaik hari ini).

Teringat ayat اَللّهُ

img_1533

Kalau اَللّهُ mengabulkan keinginanku untuk memenangkan rekanan “terbaik versi saya”, pastilah hidup saya terasa lebih ribet, memikirkan putus kontrak, pencairan jaminan dan fisik bangunan yang ga ketahuan nasibnya klo ditinggalkan tanpa diselesaikan.

Menurut saya sih ini pelajaran berharga
Untuk belajar menyerahkan ‘setiap hal’ untuk diatur oleh Sang Pencipta.
Belajar dari kisah para salafus shaleh yang TIDAK mengambil keputusan sekecil apapun tanpa meminta pertolongan kepada Allah Azza Wa Jalla…
Melalui sholat istikharah bahkan untuk mengatasi sandalnya yang putus…

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,
‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an.
Kemudian beliau bersabda,
“Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih”

Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.”

Mengambil hikmah dari pengalaman ini, saya merasa PERLU mengingatkan diri sendiri

Nani, belajar untuk menerima “terbaik versi اَللّهُ ” dengan berlapang dada…

💕24 Safar 1438💕

#MenyerahUdahDihapusDariKamus
#PasrahUdahDiBoldUndelineDiKamus
#IkhtiarUdahMaksimalDo’aMasihJorJoran
#DilarangLelahTillJannah
#PutusAsaBobonyaDiNeraka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *