Bersama Di SurgaNya

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Cerita ini saya dengar dari salah seorang rekan kerja saya,
Dia bercerita tentang salah satu rekan kerja suaminya, sebut saja namanya Abdullah… (disamarkan karena saya lupa siapa nama aslinya. :P. *para pembaca harap maklum ya… )

Abdullah ini aslinya orang jawa timur, merantau ke kalimantan untuk menjemput rejeki, dia telah menikah dan memiliki satu orang anak, Abdullah menikahi seorang janda, janda dari kakak kandungnya yang telah meninggal dunia… pernikahan seperti ini di Indonesia dikenal dengan istilah “Turun Ranjang”.

Abdullah lebih muda dari pada istrinya, selisih umur mereka lebih dari 5 tahun. Abdullah menikahi janda dari kakak kandungnya bukan tanpa sebab, pilihan ini dipilih dengan pertimbangan yang matang, tentu saja juga atas dasar “Takwa kepada اَللّهُ “, alasan lain salah satunya adalah almarhum kakaknya meninggalkan seorang anak yang perlu dibiayai dan sang istri hanya seorang ibu rumah tangga.

Dari cerita yang saya dengar dari rekan saya tentang Abdullah, Abdullah ini bukan laki-laki biasa, dia seorang laki-laki sederhana yang soleh dan bertakwa kepada اَللّهُ , kehidupannya dia jalani dengan keistiqomahan, anak dan istrinya menetap di jawa dan dia di kalimantan, Abdullah hanya pulang ke jawa satu tahun sekali (itu pun kalau biayanya cukup), di tempat kerjanya, Abdullah sering menjadi bahan candaan oleh rekan-rekannya “Abdullah seperti sapi, kawinnya setahun sekali”. (Menurut saya ini candaan kasar, mungkin biasa aja klo didengar lelaki).

Biasanya Abdullah hanya tersenyum menanggapi candaan rekannya. Dengan kondisi rumah tangga Long Distance Relationship, tak pernah terdengar isu miring tentang Abdullah bermain wanita. Dia benar-benar menjaga kehormatan dirinya sebagai seorang suami.
Guna mendapatkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya maka Abdullah tak ingin keluarganya ikut merantau ke kalimantan, karena untuk pendidikan apalagi pendidikan agama, pulau jawa masih lebih unggul dibanding kalimantan.

Istrinya juga bukan wanita biasa, dia seorang wanita solehah yang menjaga amanah suami dengan baik, yaitu mengurus anak-anak dan orang tua dengan baik. Anak-anak mereka persiapkan untuk menjadi penghafal Al Qur’an dan mereka memang menjadi anak berprestasi di sekolahnya. Anak-anaknya dapat melantunkan ayat-ayat Al Qur’an seperti qori terkenal Taha Al Junayd ( مَاشَآءَاللّهُ )

Sebenarnya istrinya merasa tak enak hati karena terpisah jauh dari sang suami, dia sangat ingin bisa berkumpul bersama anak dan suaminya, karena dengan berpisah seperti saat ini, sang istri tak bisa merawat suaminya, tak bisa menyiapkan makanan dan juga pakaian sang suami, hatinya sedih membayangkan sang suami mengurus kebutuhannya sendiri, sang istri dihantui perasaan “istri yang tidak berbakti”.

Perihal kegundahan hatinya ini telah sering disampaikan kepada sang suami,
Abdullah berusaha meyakinkan istrinya bahwa keadaan mereka sekarang inshaAllah adalah yang terbaik…

Abdullah berpesan kepada sang istri
“Rawat saja anak-anak dengan baik, agar mendapatkan pendidikan terbaik dan menjadi seorang penghafal Al Qur’an, tak mengapa kita terpisah jarak didunia, yang terpenting nanti kita berkumpul di Surga اَللّهُ “

Dari kisah ini saya menyadari bahwa pernikahan itu tak melulu tentang kebersamaan, tapi pernikahan juga tentang perjuangan dan pengorbanan “mengejar cita-cita bersama” yang targetnya Surga اَللّهُ

💕14 Rabiul awal 1438💕

#KisahWow
#GayaMembinaRumahTanggaBerbedaBeda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *