Buku bukan untukku

Bismillah…

satu tahun terakhir saya baru memperhatikan buku-buku yang saya baca, biasanya saya tidak begitu memperhatikan buku itu ditulis seorang ‘wanita’ ataukah seorang ‘pria’, disaat membaca saya hanya fokus terhadap ‘seberapa bermanfaat isi buku ini’.

tahun lalu saya membaca sebuah buku *saya lupa judulnya. Buku itu bertema “mengasah kemampuan berkomunikasi dengan orang lain”, baru 1/4 buku saya baca, ko’ rasanya buku ini lebih cenderung mengajarkan seni berkomunikasi kepada ‘kaum adam’… atau bisa dikatakan isi buku itu ‘lakiii banget’… ditengah kecurigaan saya sebagai seorang wanita, saya meyakinkan diri menebak bahwa buku itu ditulis oleh seorang “pria” saya haqqul yaqin sebelum memutuskan membaca siapa penulisnya. Dan benar saja kalau buku itu penulisnya seorang pria. #yesyesyes.

salah satu kejelekan yang sudah saya sadari sejak SD adalah “lupa judul, apalagi siapa yang menulis (except buku-buku yang emang best seller), baik buku apalagi artikel” tak jarang saya sanggup menceritakan isi bukunya secara detail, tapi saya lupa judulnya… 😬

Kejelekan ini mempengaruhi nilai saya dimata pelajaran hafalan, kejadian yang tak terlupakan saat SD dimana saya mengisi ciri-ciri tumbuhan dikotil dan monokotil secara lengkap *tapi judulnya tertukar 😂 Jadilah saya tak mendapat nilai akibat kecerobohan itu.

kembali ke penulis ‘pria atau wanita’, sejak kejadian tahun lalu itu, saya jadi bisa menyadari, merasakan dan menilai atau apapun itu… buku yang sedang saya baca apakah ditulis seorang pria/wanita???

hal itu bisa dinilai dari “siapa target” sasaran dari penulis, pria/wanita. Untuk bacaan yang unisex, penulis wanita lebih lihai memilih kata-kata sehingga pembaca tak menyadari bahwa buku tersebut untuk semua gender. Jika penulisnya lelaki, pemilihan kata masih ‘man language oriented’ #noOffense, ini web saya… suka-suka saya mau nulis apa 😁.

kenapa artikel ga penting ini saya tulis?? Ehmm… dikarenakan semalem saya membaca sebuah buku, sudah lama saya beli tapi baru kemaren saya ingin membacanya, baru beberapa halaman saya menyadari bahwa ‘ini itu seharusnya dibaca kaum adam, tidak tepat untuk kaum hawa’

#IkutiAjaSkenarioAllah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *